Anda pendukung buta, atau kritikus khawarij? Atau bukan keduanya?
Di era media sosial, kita sering dipaksa memilih dua kutub ekstrem: jadi pendukung buta yang menganggap semua kebijakan pemerintah pasti benar, atau menjadi pengkritik keras yang merasa semua yang dilakukan penguasa pasti salah.
Ketika Prabowo Subianto bicara soal bangun dini hari untuk memantau keadaan negara, ada yang kagum. Ada juga yang langsung menyindir habis-habisan. Kritik tentu boleh, bahkan perlu. Tapi apakah semua kritik selalu lahir dari keadilan? Atau kadang hanya karena kebencian politik yang sudah terlanjur mengeras?
Sebaliknya, apakah membela pemerintah tanpa mau melihat kenyataan rakyat yang sedang kesulitan juga sikap yang benar?
Sebagai muslim—terlebih yang sedang belajar mengikuti manhaj salaf meski masih banyak kekurangan—kita diajarkan untuk adil. Tidak menutup mata dari realita ekonomi, hukum, dan kebijakan yang belum berpihak. Namun juga tidak larut dalam caci maki, fitnah, dan budaya menghancurkan reputasi orang lain.
Mengakui kebaikan jika ada. Mengkritik keburukan jika nyata. Tetap mendoakan kebaikan bagi negeri dan para pemimpinnya.
Tulisan lengkapnya saya tuangkan di artikel ini:
Di Antara Kritik Pedas, Loyalitas Buta, dan Sikap Seorang Muslim yang Ingin Adil
Semoga Allah menjaga lisan kita dari kezaliman, menjaga hati kita dari fanatisme buta, dan menjaga negeri ini dengan kebaikan.
Posting Komentar untuk "Anda pendukung buta, atau kritikus khawarij? Atau bukan keduanya?"
Posting Komentar